Showing posts with label Eksodus. Show all posts
Showing posts with label Eksodus. Show all posts

Saturday, October 1, 2011

Lesley Hazleton- a Fresh, Neutral Author


You may have heard about the Koran's idea of paradise being 72 virgins. And I promise I will come back to those virgins. But in fact, here in the northwest, we're living very close to the real Koranic idea of paradise, defined 36 times as "gardens watered by running streams." Since I live on a houseboat on the running stream of Lake Union, this makes perfect sense to me. But the thing is, how come it's news to most people? I know many well-intentioned non-Muslims who've begun reading the Koran, but given up, disconcerted by its otherness. The historian Thomas Carlyle considered Muhammad one of the world's greatest heroes, yet even he called the Koran, "As toilsome reading as I ever undertook, a wearisome, confused jumble."

(audience laughing)

Part of the problem, I think, is that we imagine that the Koran can be read as we usually read a book - as though we can curl up with it on a rainy afternoon with a bowl of popcorn within reach, as though God - and the Koran is entirely in the voice of God speaking to Muhammad - were just another author on the best-seller list. Yet the fact that so few people do actually read the Koran is precisely why it's so easy to quote - that is, to misquote. Phrases and snippets taken out of context in what I call the highlighter version, which is the one favored by both Muslim fundamentalists and anti-Muslim Islamophobes.

So this past spring, as I was gearing up to begin writing a biography of Muhammad, I realized I needed to read the Koran properly - as properly as I could, that is. My Arabic's reduced by now to wielding a dictionary, so I took four well-known translations and decided to read them side-by-side, verse-by-verse along with a transliteration and the original seventh century Arabic. Now I did have an advantage. My last book was about the story behind the Shia-Sunni split, and for that I'd worked closely with the earliest Islamic histories, so I knew the events to which the Koran constantly refers, its frame of reference. I knew enough, that is, to know that I'd be a tourist in the Koran - an informed one, an experienced one even, but still an outsider, an agnostic Jew reading some else's holy book. (audience laughing) So I read slowly. (audience laughing) I'd set aside three weeks for this project, and that, I think is what is meant by hubris. (audience laughing) Because it turned out to be three months. I did resist the temptation to skip to the back where the shorter and more clearly mystical chapters are.

But every time I thought I was beginning to get a handle on the Koran - that feeling of "I get it now" - it would slip away overnight. And I'd come back in the morning wondering if I wasn't lost in a strange land. And yet the terrain was very familiar. The Koran declares that it comes to renew the message of the Torah and the Gospels. So one-third of it reprises the stories of Biblical figures like Abraham, Moses, Joseph, Mary, Jesus. God himself was utterly familar from his earlier manifestation as Yahweh - jealously insisting on no other gods. The presence of camels, mountains, desert wells and springs took me back to the year I spent wandering the Sinai Desert. And then there was the language, the rhythmic cadence of it, reminding me of evenings spent listening to Bedouin elders recite hours-long narrative poems entirely from memory. And I began to grasp why it's said that the Koran is really the Koran only in Arabic.

Take the Faatihah, the seven-verse opening chapter that is the Lord's prayer and the Shema Israel of Islam combined. It's just 29 words in Arabic, but anywhere from 65 to 72 in translation. And yet the more you add, the more seems to go missing. The Arabic has an incantatory, almost hypnotic, quality that begs to be heard rather than read, felt more than analyzed. It wants to be chanted out loud, to sound its music in the ear and on the tongue. So the Koran in English is a kind of shadow of itself, or as Arthur Arberry called his version, "an interpretation." But all is not lost in translation.

As the Koran promises, patience is rewarded, and there are many surprises - a degree of environmental awareness for instance and of humans as mere stewards of God's creation, unmatched in the Bible. And where the Bible is addressed exclusively to men, using the second and third person masculine, the Koran includes women - talking, for instance, of believing men and believing women - honorable men and honorable women. Or take the infamous verse about killing the unbelievers. Yes, it does say that, but in a very specific context: the anticipated conquest of the sanctuary city of Mecca where fighting was usually forbidden. And the permission comes hedged about with qualifiers. Not, you must kill unbelievers in Mecca, but you can, you are allowed to, but only after a grace period is over and only if there's no other pact in place and only if they try to stop you getting to the Kaaba, and only if they attack you first. And even then - God is merciful, forgiveness is supreme - and so, essentially, better if you don't. (Laughter) This was perhaps the biggest surprise - how flexible the Koran is, at least in minds that are not fundamentally inflexible.

"Some of these verses are definite in meaning," it says, "and others are ambiguous. The perverse at heart will seek out the ambiguities trying to create discord by pinning down meanings of their own. Only God knows the true meaning." The phrase "God is subtle" appears again and again. And indeed, the whole of the Koran is far more subtle than most of us have been led to believe. As in, for instance, that little matter of virgins and paradise. Old-fashioned orientalism comes into play here. The word used four times is Houris, rendered as dark-eyed maidens with swelling breasts, or as fair, high-bosomed virgins. Yet all there is in the original Arabic is that one word: Houris. Not a swelling breast nor a high bosom in sight. (Laughter) Now this may be a way of saying pure beings - like in angels - or it may be like the Greek Kouros or Kór.

-a quote from an agnostic-Jews writer, Lesley Hazleton in her talk: 'On Reading the Koran'

Tuesday, September 20, 2011

Fana

Setelah seharian sibuk bekerja, dari pagi ke malam sehingga kadangkala melupakan kewajiban, tutuplah mata anda dan bayangkan segala apa yang anda miliki dan setiap manusia yang berdiri di sisi anda sekarang. Bayangkan kilasan wajah mereka satu-persatu yang senyum dan yang bersedih, dan sebilangan yang punya ekspresi seakan mengharap anda datang kepada mereka, memberi pertolongan. Setelah kaulakukan itu, bayangkan satu demi satu khayalan tadi lenyap dari penglihatan dan terhumban ke dalam suatu kegelapan. Satu demi satu, semuanya hilang jauh dari anda, bahkan pakaian yang anda pakai terlucut dan turut sirna. Cahaya yang memancar dari arah atas semakin kelam dan akhirnya padam. Dalam keadaan fitrah, anda kini sendiri.

Saat itu anda dalam kegelapan dan mungkin menangis. Menjerit, “Ibu! Ibu!!!” atau “Ayah!!! Ayahhh!!!!!”, meminta belas mereka yang tersebut untuk diselamatkan dari siksaan tidak berdarah itu. Kepala dipusingkan kesana-kemari mencari arah cahaya agar dapatlah melangkah keluar dari dunia tanpa apa-apa itu. Sahutan manusia yang anda harapkan, tiada.

Kawan, perkara ini akan berlaku suatu hari nanti, di mana tiada siapa- bahkan insan yang melahirkan kitapun- yang mampu membantu. Hari di mana kita dengan diri-sendiri serta tanggungjawab yang telah kita ikrar akan laksanakan sewaktu berada di rahim ibu dahulu. Hari kita berpisah untuk selamanya dari apa yang kita sayang. Hari perpisahan yang kita tiada punya masa untuk mengucap selamat tinggal kepada insan-insan yang kita kenali di dunia ini.

Ketika itu, yang dipikul di bahu cumalah amalan dan dosa. Harta yang dibanggakan tidak mampu membayar jalan keluar dari kegelapan itu. Kereta yang serba mewah hanya mampu mengenderai dunia, sedangkan akhirat ia tiada makna. Rumah yang dahulunya memberikan kedinginan dan kehangatan pada masa yang sama turut punah fana. Kawan-kawan... kawan-kawan yang selalu berhibur bersama tiada di sisi, kerana mereka juga sedang menghidupi dunia kegelapan itu. Gelak ketawa mereka dan gelagat pelbagai tiada lagi untuk memberikan selengkung senyum pada wajah kita.

Dan hanya pada Allah sahaja penyelesaiannya. Kembalilah kepadaNya, tinggalkan semua kemewahan dunia yang kita akan tinggalkan, mungkin sebentar sahaja lagi. Tunduklah pada kekuasaanNya dan peraturan yang Dia sudah utarakan. Menangislah depan Dia dengan ketidaksanggupan kita untuk meninggalkan segala ini.
Berdoalah kepadaNya.

Monday, September 5, 2011

Identifikasi Keselamatan

Saya ada satu persoalan yang sangat mengganggu imaan. Kalau ada ke`arifan, silalah kemukakan jawaban. Saya jenis terbuka, tidak kiralah pendapat `ulamakah atau pndapat peribadi. Soalannya: 
Jika Islam adalah fitrah kelahiran seseorang, adakah manusia yang lahir serta hidup tanpa dedahan politeisme, diesme, ateisme, dan dsb.; tetapi beriman atas keupayaan sendiri lantaran menjadi tidak tahu (qashhir) tentang Islam atas alasan Al-Qur'an tidak sampai kepadanya; adakah golongan sebegini berada pada jalan yang benar?

Friday, August 26, 2011

Kita Berdamai, Boleh?

Salaam.

Beberapa tahun kebelakangan ini, terdapat suatu gelombang Islamofobia yang terserak ke seluru dunia, yang menakut-nakutkan manusia dari agama lain untuk mempelajari Islam. Pandangan serong terhadap Islam menjadi semakin jelas apabila siri demi siri  keganasan yang dilakukan oleh radikalis Islam. Namun, adakah adil untuk menghukum Islam sebagai agama keganasan sedangkan penganutnya yang bersalah? 

Penulis pernah mengikuti suatu bual bicara maya dengan beberapa orang mubaligh Kristian yang menyokong pernyataan Islam sebagai agama keganasan. Ternyata mereka mempunyai hujah yang lemah. Jikalaulah tindakan penganut menjadi justifikasi standard agama, maka apakah semua ini:
  1. 1. Raja Charlemagne (742-814Masihi): mewajibkan Saxonis untuk masuk Kristian dengan pedang
  1. 2. Raja Cnut (Denmark): Menghapuskan agama bukan Masihi dengan keganasan
  1. 3. Brother of the Swords (Prussia): Memaksa pemelukan Kristian dengan taktik "api dan pedang"
  1. 4. Ordo Fathrum Militante Christ (Livonia) : Mewajibkan pemelukan Kristian
  1. 5. Raja Olav Tragivson (Norwegia): Membunuh penolak Kristian; sebahagian dikera kaki dan tangan
  1. 6. Vladimir (Russia, 988 Masihi): Memaksa semua lapisan hierarki untuk memeluk Kristian
  1. 7. Bishops of the Ministers (Montenegro): Mengetuai pembantaian beramai-ramai bukan Kristian pada  Hari Krismas, 25 Disember 1703 Masihi
  1. 8. Raja Charles Robert (Hungary): Membuang wilayah mereka yang menolak Kristian
  1. 9. 6th Toli-toli Council (Sepanyol): Mengharamkan semua fahaman (sama Kristian atau tidak) yang berlawanan dengan Katolik. 
  1. 10 Gutanian I (Mesir, 527-565 Masihi): 200000 Kristian Yakob dibunuh oleh Ortodoks Mulkan di Iskandariah
  2. 11. Raja Said Ar`ad (1342-1370 Masihi): Menguatkuasakan undang-undang bunuh bagi mereka yang menolak Kristian
  1. 12. Saint Louis (1214-1270 Masihi): "Apabila engkau melihat seorang pejalan kaki dan kaudengari dia mengutuk Kristian, engkau mesti mempertahankan agamamu dengan pedangmu, dan selepas itu kautikam pejalan kaki tadi dengan pedang yang kauhunus.
Cukuplah dua belas di atas ini. Ada banyak lagi perkara pemaksaan doktrin yang dilakukan pihak Gereja terhadap orang awam di seluruh dunia. Begitupun, umat Islam tidak pernah berkata, "Serangan ini adalah serangan atas dasar agama mahupun politik". Untuk berlaku adil, ada baiknya kita memahamkan betul-betul ayat 6 dalam surah ke-109 yakni Surahtul Kafiruun:, "Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku".

Monday, August 8, 2011

Mualaf #1: Maher Zain



1. Latar belakang  dalam bidang muzik & kisah pengIslaman
Sebenarnya saya baru mulai menyanyi sekitar 3.5 tahun yang lalu. Sebelum itu, saya bergerak di industri musik, tapi sebagai penerbit; bukan penyanyi. Sesekali  menyanyi juga, tapi biasanya hanya untuk demo. Dahulu saya bekerja dengan 'Red One' (penerbit Lady Gaga, Jennifer Lopez, dll); banyak membantu dalam penerbitan musik.

Sampai 3.5 tahun yang lalu, saya jauh dari agama. Jauh dari Allah. Tapi alhamdulillah setelah itu saya memeluk Islam dan sedar bahwa banyak sekali yang boleh saya sumbangkan kepada anak-anak muda seusia saya dan yang berada di situasi yang sama dengan saya. Saya ingin memberi inspirasi mereka. Oleh sebab itulah, akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan industri musik pop dan memilih jalan ini.

Akhir tahun 2007, tepatnya bulan Ramadhan. Sebelumnya saya sangat tersesat dan serba kebingungan. Saya mulai menanyakan hal-hal seperti "kenapa kita ada di dunia ini?", "Apa yang harus kita lakukan di sini?", "Apa tujuan kita hidup?" Saya juga banyak berfikir tentang kematian, tentang kehilangan orang tua dan saudara-saudara. Banyak sekali fikiran gila yang berkecamuk di benak saya, dan saya yakin banyak juga orang yang mengalami hal seperti ini. Ditambah lagi saat itu saya berada di lingkungan yang buruk, dikelilingi teman-teman yang buruk pula. 


Alhamdulillah setelah memutuskan untuk memeluk Islam, saya mulai mendapatkan jawapan atas pertanyaan-pertanyaan tadi. Sedikit demi sedikit saya mulai memahami.Kegilaan bermuzik sepertinya datang dari ayah saya, karena dia dulu juga seorang penyanyi. Keluarga ibu juga beberapa ada yang penyanyi. Tapi di dalam dunia muzik, saya belajar banyak dari 'Red One'.


2 Islam adalah...
Salat, puasa,.. sudahtentu saya jlaksanakan. Tapi bagi saya Islam adalah jalan hidup. Bukan sesuatu yang saya jalankan sebagai sampingan. Islam is the way I'm living. Berbuat baiklah pada sesama manusia, hormati semua orang, jangan pernah menyakiti orang tuamu bahkan dengan satu kata, apa pun yang diajarkan Islam, semuanya adalah hal yang baik. This is what Islam is for me and I'm trying to live it everyday.


3. Hidup di Sweden
Tentu saja lebih sulit dibandingkan Muslim yang tinggal di Indonesia atau negara lain yang majoritinya pemeluk Islam. Tapi alhamdulillah Islam sudah mulai berkembang di Swedia. Anak-anak muda Muslim di sana sudah bisa memberi gambaran seperti apa Islam yang sesungguhnya dan orang-orang di sana pun sudah bisa melihatnya. Tentunya masih ada yang berpandangan negatif, tapi kami berusaha selalu bertoleransi.

4. Objektif menyanyi
Misi saya adalah membawa pesan kedamaian dan harapan, jadi inspirasi bagi pendengar untuk jadi lebih baik, dan menunjukkan karakter baik Islam. Salah satu perkara yang membuat saya terus maju adalah kerana banyaknya penggemar yang mengatakan bahawa lagu saya mengubah hidup mereka. Banyak yang menangis mendengar lagu 'Insha Allah', 'Open Your Eyes', dan 'Thank You Allah'; dan mereka kata, "You don't understand how this song changed my life." Inilah yang membuat saya terus melakukan apa yang saya lakukan.



Saturday, June 4, 2011

Maksud Hidup

Bismillahir Rahmanir Rahiim..

Kejadian manusia ini pada zahirnya sangat sempurna. Telinga yang sentiasa selaras dengan imbangan serta geraktubuh, serta lidah yang sentiasa berintegrasi dengan reseptor bau untuk menterjemah rasa sesuatu makanan; bohonglah jika anda tidak melihat keajaiban ini. Satu hal dengan kepelikan ini adalah bagaimana aturan atom mampu menghasilkan sesuatu seperti ini. 

Sains memang sangat berguna, praktikal dan nyata. Namun dalam kes-kes falsafah tertentu, sains sangat lemah untuk terus memberdirikan manusia yang berpegang teguh kepadanya. Terdapat dua soalan yang ia tidak mampu jawab. Pertama, masalah filasafat "dari tiada ke ada" dan masalah "dari mati ke hidup". Dua persoalan ini, pada asasnya tidak ada solusi dalam sains. Buktikan kalau ada.

Berbalik kepada isu kesempurnaan manusia. Dalam Surah At-Tiin ayat ke-4, Tuhan telah berfirman:  Laqad khalaqnal insaana fi ahsani taqwiim; bermaksudtelah kami sempurnakan penciptaan manusia dengan sebaik-baik kejadian. Ini adalah apa yang Pencipta kita sendiri katakan!

Untuk memendekkan cerita; kejadian kita serta kehidupan kita ini--pada mata Sang Pencipta--sangat agung, sangat bermakna. Tidak mungkin hidup yang begitu bernilai ini tersia-sia dengan kematian sahaja, seperti apa yang dicanang golongan nihilis. Saya menolak kenyataan bahawa permulaan manusia sama dengan pengakhirannya yang tidak bermakna; kematian. Pasti ada kehidupan selepas itu, ini yang hati saya bisikkan. Hayatilah Surah Al Waqiaah, ayat 57: Kamilah yang telah menciptakan kamu (dari tiada kepada ada wahai golongan yang ingkar), maka ada baiknya kalau kamu percaya (akan kebangkitan kamu hidup semula pada hari kiamat).

Saya dahulunya adalah seorang manusia yang dahaga dengan maksud hidup. Alhamdulillah, Tuhan memilih saya untuk terlibat dalam satu kemalangan kira-kira enam tahun yang lalu. Dari situ, saya mula menghargai betapa berharganya hidup dan dari situ, saya berazam mencari maksud hidup. Perjuangan selama hampir tiga tahun tidak membuahkan apa-apa. Saya terus hidup dalam gelumang dosa, meskipun kesedaran itu bercambah sedikit. saya teruskan hidup dalam kejahilan sehinggalah saya membaca Surah Al Mulk dan Surah At Takwiir. Sehinggalah saya dipertontonkan dengan sebuah tayangan video pembantaian manusia di sana-sini. Pendedahan daripada rakan-rakan juga sangatlah membantu saya berubah.

Dari kesemua pengalaman kolektif itu, saya bertatih melawan arus nikmat dunia. Bukan mudah, tetapi bukan juga mustahil: ini yang saya pegang. Tika saya kaku dan membatu pada persoalan hidup, saya gagahi diri untuk menyelak Al-Qur'an. Jujur; saya mulai lancar membaca Al-Qur'an ketika berumur enam belas tahun. Malu? Memang malu.. tetapi untuk kepentingan sendiri; saya betul-betul ketandusan makna ketika itu.

Tidaklah bermakna berubah seratus-peratus. Sukar sebenarnya untuk berhijrah dalam waktu singkat. Sayapun sehingga ke hari ini, masih menyimpan beberapa sikap buruk yang sama ketika saya masih jahil dahulu. Tabiat yang sudah menjadi daging. Tapi jangan jadikan pula ini sebagai alasan. Saya mencadangkan; lawan selagi berdaya, jangan biarkan diri dikuasai perasaan dan keinginan yang tidak-tidak.

Jika kita perhatikan dengan teliti, hidup ini sangat 'kosong' bila diisi dengan kepentingan materii semata. Umpama tin kosong; mudah kemik dan guyah strukturnya. Hidup perlu diisi dengan air ruhani. Air inilah yang menyuburkan jiwa dan minda, menjemput ketenangan untuk bertandang kepada kita. Sebab itulah selalu dilihat manusia yang jauh lebih miskin daripada kita masih mampu tersenyum. 

Persoalannya: bagaimana kita menggunakan masa singkat ini sebaik-baiknya? Adakah cukup dengan hidup dan menjadi tua, lalu mati dan disumbat ke liang lahad? Adakah cukup dengan bekerja seharian, meraih wang yang sudah tentu tidak mampu menampung tiket ke syurga? Adakah cukup dengan berbuat baik kepada manusia sedangkan hak Pencipta kita endahkan? Adakah bisa jasa pada negara menampung beban dosa di atas ketipisan Titian As-Siraat? Fikirkan sendiri.. saya tinggalkan pembaca dengan persoalan ini. 

Selamat beramal. .u_u.